“Pertamini” : Ini Kata BPH Migas, Pertamina, dan Kementerian Perdagangan

202655_pertamini5Saat ini bisnis penjualan bensin eceran dengan label Pertamini tengah menjamur di beberapa tempat. Pertamini jadi alternatif pengisian BBM, khususnya bagi pengguna kendaraan roda dua yang kehabisan bensin sementara lokasi SPBU masih cukup jauh. Satu mesin Pertamini ini ada tangki kecil isinya 210 liter, lengkap dengan nozzle-nya. Dari tangki di bawah dipompa masuk ke tangki ukur. Menjamurnya Pertamini ini tidak hanya di Jakarta saja, tapi di Surabaya, Bandung dan banyak tempat lainnya di Indonesia. Apa kata BPH Migas, Pertamina, dan Kementerian Perdagangan terhadap bisnis Pertamini ini? Berikut ini ringkasannya dikutip dari berbagai sumber.

Menurut BPH Migas

Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas menyatakan, praktik penjualan BBM bersubsidi lewat Pertamini adalah bisnis ilegal dan sudah sepatutnya ditertibkan.

Direktur BBM BP Migas Hendry Ahmad mengungkapkan, pelaku yang melakukan penjualan BBM tak berizin bisa dikenakan hukuman pidana penjara 6 tahun atau denda sebesar Rp 60 miliar.

“Saya tegaskan, Pertamini dan sejenisnya itu ilegal. Hukumannya jelas ada penjara sampai 6 tahun atau denda maksimal Rp 60 miliar, ada di Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001 pasal 55,” kata Hendry ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Meski ilegal, menurut Handry, pihak yang melakukan penindakan adalah aparat penegak hukum, bukan BPH Migas sebagai regulator dari distribusi hilir migas.

“Selama ini kan belum ada laporan. Kalau ada laporan bisa secara hukum bisa dipidanakan. Dan memang sudah seharusnya ditertibkan,” katanya.

sumber : http://finance.detik.com/read/2015/08/20/174908/2996958/1034/awas-penjual-bensin-pertamini-bisa-dipenjara-6-tahun

Menurut Pertamina

Menanggapi fenomena Pertamini, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro mengungkapkan, keberadaan Pertamini yang ada di pinggir-pinggi jalan secara hukum ilegal dan tidak memenuhi standar keamanan (safety).

“Kalau yang di pinggir-pinggir jalan itu jualan dengan cara ilegal. Apalagi kalau dilihat safety kan jelas itu tidak aman, selangnya apa yang dipakai, tangkinya, penyimpanannya bagaimana kalau nantinya terjadi kebakaran,” ujar Wianda pada detikFinance, Jumat (21/8/2015).

Pertamina, lanjut Wianda, sudah pro aktif melakukan pencegahan dengan melarang pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjual pada masyarakat yang datang menggunakan jeriken.

“Sebenarnya itu memang ilegal, tapi yang kita takutkan bukan masalah hukumnya, tapi lebih ke aspek keamanan dari mesin Pertamini,” katanya.

Kendati demikian, sambung Wianda, Pertamina tidak melarang masyarakat membeli BBM dalam jeriken untuk sejumlah tujuan seperti usaha bengkel, kebutuhan traktor, generator, dan sebagainya.

“Yang kita larang itu BBM jangan diperjualbelikan bebas. Makanya kita upayakan setiap pembelian jeriken menggunakan surat jalan dari pemerintah daerah. Tujuannya, agar peruntukannya jelas,” jelasnya.

sumber : http://finance.detik.com/read/2015/08/21/144855/2997808/1034/ini-kata-pertamina-soal-pertamini

Menurut Kementerian Perdagangan RI

Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Kemendag Widodo mengatakan, membeli bensin di Pertamini tidak aman, karena banyak ditemukan penjualnya yang merokok disamping lapak dagangannya. Kedua, pembelinya juga dirugikan karena bensin yang keluar dari nozzle Pertamini sering kurang.

“Kita sudah lakukan pengawasan. Hasilnya, meteran yang dipakai tidak sesuai dengan takaran yang sebenarnya. Kita pernah coba, satu liter dari Pertamini ternyata tak benar-benar satu liter,” kata Widodo kepada detikFinance, Jumat (21/8/2015).

Menurut Widodo, penggunaan meteran yang tidak sesuai standar yang ditetapkan harus ditertibkan. Widodo menyebut, aturan tersebut secara tegas diatur dalam UU No.2 Tahun 1981 Tentang Metrologi Legal sehingga melarang bisnis apa pun menggunakan meteran tidak berstandar.

“Jangankan Pertamini, SPBU saja bisa langsung ditutup kalau meteran nggak bener. Kita masih tunggu status legalitasnya dari ESDM. Atau apakah nantinya dibantu standarisasi agar berizin,” tegasnya.

Dalam menanggapi masalah Pertamini, kata Widodo, mau tak mau pemerintah tetap harus melakukan pembenahan meski pemain Pertamini adalah masyarakat kecil.

“Memang iya kalau dari sisi masyarakatnya, cuma kalau dibiarkan akan lebih banyak konsumen dirugikan. Kalau masyarakat nggak komplain selama ini, karena belum tahu saja,” jelasnya.

sumber : http://finance.detik.com/read/2015/08/21/202500/2998243/1034/saran-dari-kemendag-hindari-beli-bensin-di-pertamini

Iklan

Tentang Metrologi Tegal

Jl. Kolonel Sugiono No. 23 Telp. 0283-356426 Fax. 0283-356426 Tegal 52122 Jawa Tengah
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Berita, Nasional, Pertamini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s